Sunday, September 13, 2009

Workshop Klinik Fotografi Kompas

Rating:★★★★★
Category:Other
Tanggal 13 September 2009 kemaren, Klinik Fotografi Kompas bekerjasama dengan Kompas.com dan Gramedia menyelenggarakan Workshop 1 hari untuk kelas Intermediate dengan tema "LANDSCAPE"..(catet ya boo.."LANDSCAPE"). Mengambil tempat di Gramedia Matraman dengan pembicara fotografer Kompas yang udah lalu lalang malang melintang di dunia perfotografian, Arbain Rambey. Mulai dari suka dukanya ketika mengambil satu gambar dengan angle dan komposisi yang sama tapi harus berulang-ulang karena pake kamera analog alias kamera yang menggunakan film, sampai sekarang diberi kemudahan menggunakan kamera digital dan juga software yang mempermudah kita untuk menghasilkan gambar yang kita inginkan..btw si Om juga ternyata masih suka pake kamera analog untuk saat ini.
Sesuai dengan judul Workshop yaitu "Landscape" tentunya tidak harus fotografer profesional yang mengerti makna Landscape bahkan yang amatir, ataupun ketika belajar melukis kita sudah mengerti ketika guru mengatakan Landscape. Yang terbayang di kepala saya waktu berangkat adalah pelajaran mengenai cara memotret landscape atau pure pemandangan. Tapi ternyata beliau juga mereview mengenai tehnik fotografi yang lain.Thank you, Om :D
so far Om Arbain yang kocak pembawaannya itu sooo apa adanya memberikan materi secara gamblang dan mudah di mengerti disertai penjelasan contoh-contoh hasil jepretannya sehingga ga terasa membosankan. Sometimes beliau juga tidak sungkan untuk memberikan tips-tips dan juga hal-hal yang mempermudah dan memperingan kita as a fotografer supaya ga kehilangan moment. Bahasa yang dipakai tuh "gw banget" jadi enak didengar. Misalnya soal tripod yang ga perlu mahal dan ringan dan kalo mau stabil cukup di gantungin kresek isi batu..asik banget deh..trus kalau memang niatnya mau foto landscape ya ga perlu bawa lensa sampai kayak mau mudik alias semua lensa di bawa (apalagi mengingat kita cuma workshop di gedung Gramedia yang visualnya juga terbatas jadi ga perlu bawa "si moncong putih" karena kita bukan mau moto pertandingan bola, mas..peace :DD). Low Profile banget deh untuk orang sehebat beliau.
Anyway, Saya hanya seorang traveling yang sama sekali tidak piawai menjepret. Ketika singgah dari satu kota ke kota lain mau tidak mau saya selalu disuguhi pemandangan/ landscape kota tersebut. Itulah sebabnya saya merasa tidak ada salahnya saya mencoba memperbaiki hasil jepretan saya supaya agak lumayan dan enak dilihat dengan mengikuti workshop ini. Syukur-syukur ada yang beli..heheheh..
Cu on next workshop and thank you for sharing Om..

link : www.kfk.kompas.com





Sunday, September 6, 2009

Jelang Senja di Senggigi

Menghadap selat lombok yang berbatasan dengan pulau Bali, Pantai Senggigi menawarkan panorama sunset yang memukau, dengan jejeran pohon kelapa dan aktivitas pemancing lokal sebagai pelengkap. Terletak di sebelah barat pulau Lombok dan merupakan pantai terdekat yang dapat ditempuh dari kota maupun dari airport.


(picture taken from my other blog..i lost my Lombok Picture Files..hikss )

Wednesday, August 26, 2009

Day by Day in Toraja - Day 2

OK. Seperti biasa kota Rantepao sudah mendung dari pagi. Tapi based on experience kemaren hari ini tetap semangat melanjutkan explore diToraja. Rugi dong secara nanti malam kita dah cabut lagi ke Makasar. Tujuan pertama kita hari ini adalah ke Londa. Londa adalah pekuburan berbentuk gua yang terletak di desa Sendan Uai, kecamatan Sanggalai, berjarak sekitar 7 kilometer di sebelah selatan kota Rantepao. Tempatnya agak lembab dengan jalan masuk menuruni beberapa anak tangga. Btw ini dalam gua boo..jadi gw memilih untuk meyambut kedatangan mereka aja di pintu gw, secara gw claustrophobia… Dari cerita teman-teman yang masuk, di dalam gw yang gelap dan sempit itu banyak tulang belulang dan ratusan tengkorak yang sebagian sudah berumur ratusan tahun. Banyak juga peti-peti mati yang masih baru. Tapi sama sekali tidak ada bau pengap . o iya , btw di pintu gua ada mas-mas yang nyewain lampu untuk masuk ke   gua..satu lampu bisa dipakai 2 – 3 org dan harganya Rp.40.000 u satu buah lampu..bisa dianter juga sama mas-2nya ..yaiyalah, siapa juga yang mau nyasar di dalam bersama tumpukan tulang belulang dan peti mati yang baru 2 minggu… Actually tujuan selanjutnya adalah kita mau ke sebuah Rante. Rante adalah tempat upacara pemakaman secara adat. Di rante terdapat puluhan atau bahkan ratusan buah menhir (batu megalit). Batu megalit atau simabuang batu ini memiliki ketinggian 2-5 meter. Rante yang kita kunjungi kali ini adalah Bori’ Kalimbuang terletak di sebelah utara kota Rantepao dan berhawa sejuk karena terletak di kaki gunung Sesean. Jiaaaa….tempatnya ciamik boo buat narcis:P.
Koq ya di dekat situ lagi ada keriaan alias wedding party jadi kita makan gretong secara Om Jhony kenal sama yang punya hajat.Perkawinan, dan membangun Tongkonan dapat di katagorikan dalam upacara adat Rambu Tuka’ atau upacara syukuran. Makasih loo, makanannya dan foto-fotonya:P. Destination terakhir hari ini adalah menuju puncaknya Toraja, atau ke Batu Momonga. Sepanjang perjalan hujan terus dan kita molor secara kekenyangan. Dari Batu Momonga ini kita bisa lihat Toraja yang elok permai, kayak lukisan apalagi sore itu kita disuguhi pelangi…
Thanks God for this perfect completely trip..

Tuesday, August 25, 2009

Coral Island, Pattaya, Bangkok



Hanya 2 jam dari Bangkok, terletak di sebelah barat Pattaya, Coral Island atau sebenarnya bernama Ko Larn menyajikan wisata laut yang terbayarkan karena pantainya yang berpasir putih, bersih . Banyak permainan dan olahraga air yang bisa di lakukan di sini .. Ataupun hanya rileks dan berjemur di pinggir pantainya.Meskipun banyak toko yang menjual souvenir namun tidak satupun penjaja toko yang menawarkan dagangannya, seolah menghormati para wisatawan yang memang datang ke sana untuk menikmati "their holiday" "Do Not Disturb" benar-benar di jalankan dengan patuh disini.

Monday, August 24, 2009

Day by Day in Toraja - (Second Trip with BBC) Day 1

On this Second Trip with BBC kali ini, kami punya kesempatan pergi ke desire destination (tepatnya my desire destination sich..tq buat BBC yang udah berhasil diracuni untuk menemani), Tana Toraja.   Meskipun agak delay-delay sedikit  dan agak-agak worry pas boarding karena bareng rombongan “J” akhirnya jam 8 malam waktu setempat kita savely landing di Sultan Hasanuddin yang wow punya. Beneran, Bandaranya hampir mirip-mirip kayak bandara di Thailand tapi tentu aja WCnya teteupppp..(you know what I mean lah).
Sebelumnya kita sudah arrange untuk rent a car dengan pertimbangan karena kita pergi ber – 6 maka biaya yang di keluarkan untuk trip ke Toraja selisihnya ga jauh dengan apabila kita ngeteng. FYI, ada bus umum yang melayani rute UP – Toraja dengan harga tiket Rp.80rb dan  bisnya bagus-bagus. Lama perjalanan yang di tempuh adalah kurang lebih 8 jam. Jam 06 pagi kita sudah tiba di Rantepao yaitu kota yang biasanya menjadi center untuk para wisatawan explore tempat wisata di Toraja. As u know bahwa siapapun yang berkeinginan ke Toraja tentunya sudah paham bahwa wisata di sana mostly didominasi untuk pergi ke unique cemetery. That’s why Tana Toraja sudah booming di international dengan funeral ceremonynya ( Rambu Solo’).
Dengan di damping seorang capable guide tour kita starting that day ke
Kete Kesu’. Dari pusat kota wisata Rantepao, jaraknya sekitar 4 kilometer, kurang lebih 30 menit. Kete Kesu, seperti sebuah miniature perkampungan Toraja, terletak ditengah areal sawah sehingga menyajikan pemandangan yang ciamik, dengan deretan tongkonan atau rumah adat Toraja. Areanya bersih dan beberapa tongkonan masih di huni. Ada 6 buah tongkonan di Kete Kesu yang sudah berusia puluhan tahun dan kesemuanya menghadap utara dan berhadapan dengan 12 lumbung padi sebagai partner setianya. Beberapa sudah di tumbuhi semak di atapnya. Kete Kesu sendiri berarti pusat kegiatan. Berjalan kira2 100meter ke belakang  terdapat kompleks  pemakaman (..yeahh..and the tour begin nih..) yang teduh dikelilingi pohon bambu. Ada makam leluhur yang di buat dari semen, tumpukan erong (peti mayat) yang berbentuk perahu, kerbau dan babi yang sudah lapuk dan kusam, serta tentu saja tumpukan tulang belulang. Tapi foto2 di sini juga keren koq (terutama buat Baqi : P) .
Berdasarkan bocoran yang di dapat si Om Jhony, tour guide kita, rupanya ada sebuah desa yang sedang melakukan rangkaian upacara adat Rambu Solo. Ga pake mikir di seruduk gerombolan babi kita segera join. Rambu Solo adalah salah satu upacara adat di Tator yang sampai saat ini masih terus di jaga kelestariannya. Rangkaian upacara ini bisa memakan waktu berhari- hari dan biaya yang tidak sedikit bahkan sampai milyaran rupiah. Oleh sebab itu ada bulan-bulan tertentu untuk melakukan upacara ini, biasanya di bulan Juli dan Agustus banyak pihak keluarga yang baru melakukan upacara Rambu Solo’, mengingat di bulan – bulan itu mungkin banyak libur sehingga sanak saudara dan kerabat yang telah merantau dapat menghadirinya. Dalam upacara ini banyak hewan yang di kurbankan dan semakin banyak hewan yang di kurbankan semakin naik pula status social si penyelanggara pesta. Hewan termahal adalah kerbaudan seorang bangsawan minimal harus mengurbankan 24 ekor kerbau belum lagi babi dan ayam. Itulah mengapa biaya upacara ini sangat mahal, karena satu ekor kerbau apalagi yang memiliki ciri  khusus dapat dihargai hingga ratusan juta rupiah.

Masih satu rangkaian dengan upacara tersebut, kita berkesempatan pula menyaksikan adu kerbau atau yang biasa di sebut Mapasilaga Tedong. Acaranya diadakan di sebuah lapangan dan yang nonton banyakkkkkk banget soalnya acara ini emang yang paling di tunggu-tunggu dari awal. Dari tempat adu kerbau ini kita jalan kaki sedikit ada sebuah perkampungan atau apalah yang asri banget dimana di belakang rumahnya itu ada sungainya yang jernih. Trus si tante dan keluarganya yang dirumah itu baik banget..kita di suguhin kopi toraja n biscuit sambil duduk-duduk di tongkonan. What a wonderful evening we have…cant hardly wait for tomorrow…

untuk foto narcisnya ada di sini :P

Friday, August 21, 2009

Dine Me, Sushi Me




Selain tempe, makanan favourite gw adalah Sushi. Mungkin agak illfil kalau tau bahwa sebenarnya membuat sushi yang "sah" adalah dengan menggunakan tangan telanjang ketika mengepalkan nasi menjadi suatu bentuk. Akan tetapi sekarang ini beberapa rumah makan jepang sudah banyak yang menggunakan sarung tangan dalam proses pengepalan nasinya. Pada umumnya bahan makanan laut yang di gunakan adalah mentah, tetapi beberapa jenis sushi menggunakan makanan yang sudah matang
Di Jepang sendiri 'the real Sushi' masih tergolong makanan mahal karena cara membuat sushi itu sudah di katagorikan sebagai seni, baik dalam proses pembuatannya maupun ketika menyantapnya. Sushi Shokunin adalah sebutan terhormat ahli sushi di restoran sushi tradisional dan merupakan profesi dengan penghasilan tinggi. Hampir semua ahli sushi di dominasi oleh pria atas beberapa pertimbangan tertentu. Jenis Sushi biasanya digolongkan berdasarkan bentuk nasi. Selain itu sushi juga banyak macamnya di lihat dari isinya, daun yang membungkusnya, etc. Tapi ga sempet kali ya boo ngapalin nama- namanya as long gw cuma tau itu makanan yang terbuat dari nasi di campur cuka beras di kepal-kepal dan diisi makanan laut..mmm..yummy..

Knocking On "1million" Doors...

Gedung megah bergaya Art deco karya Arsitek Belanda Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag ini dulunya digunakan sebagai kantor pusat kereta api pada jaman penjajahan Belanda. Masyarakat Semarang lebih mengenal gedung ini dengan sebutan Gedung Lawang Sewu, mengingat banyaknya jumlah pintu dalam gedung. Lawang Sewu sendiri dalam bahasa jawa yang berarti seribu pintu atau banyak pintu meskipun belum tahu kebenarannya apakah jumlah pintunya benar-benar seribu...
Sejarah mencatat bahwa gedung ini di buat pada tahun 1904 dengan mendatangkan semua material penting dari Eropa. Tahun 1907 mulai dipergunakan untuk kantor jawatan kereta api Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) kemudian kantor Djawatan Kereta Api Indonesia (DKAI) yang kini menjadi PT Kereta Api (KA)


Just Info, Lawang Sewu terbagi menjadi empat bagian gedung, yaitu gedung A yang berbentuk L; gedung B adalah gedung di bagian belakang yang bentuknya membujur arah utara selatan; gedung C adalah gedung bagian tengah yang dulu difungsikan sebagai kantor; serta gedung D yang terdiri atas gedung-gedung penunjang seperti kamar mandi.