Tuesday, June 10, 2014

The Stunning Phi Phi Island ,



(For GetAway! Magazine, May 2014 Issue)



“ I was here with Leonardo De Caprio”. 

Saya tersenyum membaca tagline sebuah biro pariwisata di Phi-Phi Don, sebuah pulau yang merupakan salah satu tempat di wilayah Asia Tenggara yang keindahan alamnya tidak pernah habis dibicarakan dan selalu memiliki magnet untuk menarik wisatawan datang. Phi Phi Don sendiri merupakan bagian dari kepulauan Phi Phi yang letaknya diapit oleh Phuket dan daratan Thailand serta menjadi bagian dari propinsi Krabi.  Penduduk Thailand mengenalnya sebagai Ko Phi Phi Don ( ‘ko’ berarti pulau). Phi Phi Don merupakan satu-satunya pulau berpenghuni dimana 80% orang penduduknya menganut ajaran muslim.  Bisa dipastikan ketika seseorang mengatakan dia tinggal di Phi Phi Island pastilah yang dimaksud tinggal di Phi Phi Don. 


Ada dua alternative untuk menuju ke pulau ini, dari Phuket atau dari Krabi. Keduanya kurang lebih sama jaraknya, namun kebanyakan orang memilih lewat Phuket karena lebih banyak pilihan dan kota Phuket juga lebih hidup di bandingkan Krabi. Menggunakan ferry dari Phuket menjadi pilihan saya dalam perjalanan menuju Phi Phi . Kebetulan saya sudah membeli tiket ferry secara online meskipun banyak sekali tour agen di Phuket yang menjual wisata ke Phi Phi Island. Paketnya sendiri beragam, paket one day tour adalah paket Phi Phi- Phuket dimana kita langsung diajak berkeliling kepulauan Phi Phi dalam sehari sedangkan paket yang kedua adalah one way trip dimana tiket kepulangannya bisa kita beli langsung di Phi Phi Don. Harganya bervariatif antara 700Bath hingga 1500Bath. Setiap penumpang nantinya di beri stiker di dada sesuai dengan tujuan yang mereka pilih.

 


Berlabuh dari Rasada Pier di Phuket Town, kapal yang  berpendingin udara ini di lengkapi dengan kabin yang luas dan bersih dimana pada setiap kursinya dilengkapi lifevest dan juga termasuk fasilitas free coffee/ tea dan snack. Ruangannya terbagi tiga. Lantai paling atas  yang merupakan dek terbuka di penuhi para “bule” yang ber-sun bathing  dan tentu saja saya memilih berada di lantai teratas karena ingin menikmati pemandangan sepanjang perjalanan yang benar saja membuat saya seringkali berdecak kagum. Tebing tebing carst kehijauan disepanjang perjalanan menuju Phi Phi Don bermunculan seperti susunan halma, berdiri kokoh dengan laut jernih sebagai alasnya dan langit biru yang menaunginya . Tak tahan rasanya ingin segera menceburkan diri dan menjadi objek yang menyatu dengan lukisan alam tersebut.


Sekitar dua jam jam ferry yang membawa saya dari Phuket akhirnya merapat di dermaga Phi Phi Pier. Sebuah bangunan Tourist Information Centre menyambut kedatangan saya di  gerbang pelabuhan dan seketika suasana liburan langsung terasa. Di pulau ini tidak ada kendaraan lalu lalang. Jalannya berupa paving blok dan kita cukup berjalan kaki atau menyewa sepeda untuk berkeliling.  Kebanyakan bangunan yang berada di pulau ini berkonstruksi kayu dan mayoritas menjual aneka kebutuhan turis. Ada dua buah pantai di Phi Phi Don. Ton Sai Beach tempat dimana ferry kami bersandar adalah salah satu daerah ter-crowded. Mulai dari  hotel, restoran dan cafe, toko-toko, operator diving dan biro pariwisata kebanyakan berpusat di sini. Boleh dibilang ini adalah tourist centre yang sesungguhnya. 


Seafood tentu saja menjadi menu utama untuk mengisi perut terlebih dahulu. Tanpa berpikir soal kolesterol saya memesan sepiring lobster bakar yang awalnya masih dalam keadaan hidup dan langsung diolah ditempat. Di tambah sejuknya air kelapa dingin yang mengalir di kerongkongan cukup sudah asupan tenaga untuk untuk berjalan-jalan di sekitar pulau.


Di Loh Dalum Beach yang merupakan pantai kedua di pulau ini memiliki garis pantai yang  lebih panjang , dengan air yang dangkal bahkan ketika kita sudah berjalan cukup laut ke tengah dari bibir pantai. Di pantai ini kebanyakan turis menghabiskan waktu dengan berenang ataupun sekedar bermain di pinggir pantai. Seperti halnya saya yang akhirnya tergoda untuk berkenalan pertama kalinya dengan air laut Andaman alias berenang di tengah udara yang cukup panas.

Phi Phi View point merupakan tempat tertinggi di Phi Phi Don. Ini sebenernya merupakan jalur evakuasi ketika terjadi tsunami. Saya tiba di sebuah pondok yang tidak berpenghuni setelah setengah jam pertama mendaki dengan menggunakan tangga yang cukup melelahkan.  Spot ini dirancang seperti taman dengan banyaknya tanaman bunga sehingga kita bisa istirahat sejenak.  Berikutnya merupakan jalan setapak berupa semen dan di kelilingi pepohonan.  Buat yang menyukai hiking, Phi Phi View Point sangat sepandan dengan pemandangannya yang luas kearah lautan lepas. Kedua pantai tadi bahkan terlihat sangat jelas. Biasanya pengunjung diminta untuk turun sebelum hari gelap karena disepanjang jalan tadi tidak disediakan penerangan.


Matahari masih ramah ketika pagi ini tanpa beralas kaki saya menuju pinggir pantai dimana longtail boat yang akan membawa saya menuju Maya Bay sudah siap. Beberapa turis juga termasuk dalam rombongan kami. Biasanya tujuan utama turis berkunjung ke Phi Phi Island adalah menuju Maya Bay.  Dengan harga yang reasonable  sudah mencakup transportasi menggunakan long tail boat, sewa peralatan snorkeling dan makan siang.  Tidak perlu khawatir kalau belum memiliki tiket karena banyak sekali yang menawarkan tiket tour ke Maya Bay. Tiket itupun baru saya beli kemaren sore di Phi Phi Don karena tergiur dengan brosur-brosur yang mereka tawarkan. Dengan long tail boat kira-kira membutuhkan sekitar 30 menit  sementara  alternative lain yang lebih cepat adalah dengan menyewa speed boat yang tentunya harganya lebih mahal. Menuju Maya Bay dengan rombongan memang sebaiknya di lakukan dipagi hari karena begitu siang tempat ini akan ramai oleh rombongan kapal lain dari mulai cruise sampai speed boat sehingga terkadang cuma ada sedikit space dan waktunya lebih singkat karena kita harus bergantian. 



Perahu perlahan bergerak dalam ketenangan air laut, sedikit terpesona saya mengamati perubahan gradasi ketika perahu kami melintas. Mulai dari biru tua, biru muda hingga berwarna kehijauan. Sepanjang perjalanan pihak travel membawa kami melewati tebing-tebing karst yang sangat indah
Maya Bay terletak di pulau kedua terbesar yaitu Koh Phi Phi Leh dan mempunyai pantai sepanjang 200 meter yang berpasir lembut putih bagaikan tepung gula. Letaknya tepat menghadap ke arah teluk dan tampak seperti kantung yang tersembunyi dengan tebing krast kehijauan di sisi kirinya. Tebing-tebing kehijauan itu memantulkan bayangannya pada kejernihan  air laut, bercermin seolah bangga akan keelokannya. Sinar matahari yang menerpanya justru membuatnya semakin kilauan. 

Maya Bay mungkin berhasil memikat para fansnya ketika menjadi “movie star” dimana semenjak itu ribuan turis berbondong-bondong datang setiap harinya selama musim panas. Selama jam turis yaitu sekitar pukul 10.00 sampai 03.00 sore tempat ini luar biasa riuhnya. Banyak sekali kapal hilir mudik mengangkut wisatawan baik itu longtail boat, speedboat hingga ferry yang saya tumpangi dari Phuket kemaren. Beberapa kapal juga terlihat di bibir pantai, menunggu penumpangnya. Ada yang sedang berenang, snorkeling atau hanya berfoto-foto. Luasnya sekitar 60km persegi dan tidak berpenghuni. Hanya ada sebuah pondokan yang menjual minuman dengan fasilatas kamar mandi dan sebuah pondok penjaga. Untuk singgah disini biasanya turis dikenakan tambahan lagi dengan alasan bahwa Maya Beach termasuk tempat wisata yang di lindungi. Kalau berharap bisa melihat Maya Beach seperti yang tampak di film The Beach, saya sarankan lebih baik menyewa boat dan datang di sore hari. 

Boat yang saya naiki terus melaju dengan laut biru Andaman sebagai panggungnya dan  dengan tebing-tebing karst yang menjulang gagah sebagai penontonnya. Angin yang berhembus menggeraikan helai rambut bagaikan seorang bintang yang sedang berakting. Dari Maya Beach perahu berputar melewati Loh Samah Bay.  Terletak di sisi timur Phi Phi Leh dan popular untuk kegiatan snorkeling atau  night diving. Loh Samah Bay dipisahkan dari Maya beach oleh dinding kapur tipis yang memiliki lubang  sehingga memungkinkan bagi kita untuk melaluinya

Buat saya Pileh Cave lebih membuat kagum. Seperti halnya Maya Bay, Pileh Cave  merupakan bagian dari Phi Phi Island National Park. Dari jauh perahu yang saya tumpangi tampak seperti akan memasuki sebuah pintu dengan dua bukit limestone sebagai gerbangnya, seperti busur panah perahu di tuntun memasuki sebuah teluk kecil tersembunyi dengan airnya bening kehijauan bagaikan emerald dan menampakan gugusan karang di bawahnya. Teluk sepanjang 300 meter ini dikelilingi limestone krast. Finally, disini saya bisa melakukan snorkeling dan tentu saja saya harus berpuas diri snorkeling dengan waktu terbatas karena mengingat banyaknya tail boat lain yang datang silih berganti.
Perjalanan berikutnya adalah merapat ke dinding sebuah gua bernama Viking Cave. Raja Thailand Bhumibol Adulyadej memberikan nama Tham Phaya Nak untuk gua ini. Walaupun di dindingnya terpahat gambar-gambar yang lebih menyerupai kapal bangsa Eropa namun entah mengapa nama “Viking” kemudian menjadi lebih terkenal.  Gua ini sekarang menjadi sarang burung wallet yang jumlahnya ratusan. Burung – burung ini membuat sarang dari air liur mereka dan secara berkala sarang tersebut dipanen dan kemudian dijual . Sup sarang burung walet merupakan salah satu makanan favorit di restoran china. Menurut penduduk setempat, bila panen tiba harganya bisa mencapai 20juta/kg.  Wisatawan tidak di ijinkan untuk turun sehingga saya hanya bisa melihat dari atas kapal. Ada satu penduduk local yang sedang memancing dan menurut guide kami, orang itu akan menetap disana selama kurang lebih sebulan sampai sarang burung wallet siap di panen. Berminat?
Di ujung tenggara Loh Dalum terdapat teluk tersembunyi yang merupakan rumah bagi koloni kera. Monkey Beach,  sesuai dengan namanya di huni oleh ratusan kera . Dalam perjalanan kembali ke Phi Phi Don kami dibawa untuk mampir. Buat saya yang sering melihat kera dari dekat mungkin biasa saja, tapi tidak demikian halnnya dengan rombongan turis-turis eropa itu. Mereka tampak excited memberi makanan.  Kera-kera itu pun tidak kalah excitednya,  tidak segan-segan datang menghampiri wisatawan begitu kapal merapat ke pinggir pantai. Saya sempat tertawa ketika terlintas pikiran ini adalah main atraksinya. Walaupun mereka jinak tidak urung saya sempat khawatir juga melihat ke agresifan mereka. 

Jelang petang kami kembali ke Phi Phi Don. Seiring matahari meredup, kehidupan malam di Phi Phi Island pun di mulai. Café-café menyebarkan berbagai brosur “party on the beach”. Untuk sebuah pulau kecil, kehidupan malam di Phi Phi Don agak terlalu happening. Suara music bersahut-sahutan dari beberapa café dan bar. Belum lagi hilir mudik turis diselingi percakapan diantara mereka. Sungguh hidup. Di arena terbuka, sambil duduk dan membenamkan kaki di pasir, saya memandang jauh ke tengah laut yang saat ini hanyalah tampak seperti kumpulan air dengan bayangan gunung-gunung kecil menjulang, gelap dan hanya sesekali  kerlip lampu berpedar di kejauhan. Siapa sangka pulau yang 10 tahun silam pernah disapu habis tsunami ini,   ketika matahari beranjak naik esok hari nanti akan membuat setiap  mata yang memandangnya  seolah lekat tersihir.

----000----

INFO
1     Transportasi
Flight : Jakarta – Phuket
Jakarta – Krabi
Feery Schedule :
untuk jadwal ferry bisa dilihat di http://andamanwavemaster.com/

2    Penginapan


3    Waktu terbaik untuk berkunjung ke Phi Phi Island adalah antara bulan November dan April. Menuju Maya Bay sebaiknya berangkat pagi hari sebelum pukul 8.00 atau setelah pukul 5 sore.

1 comment:

Oma Nidy said...

Halo, mau tanya donk... kalo beli tiket ferry secara online dimana ya?